Sejarah

Monumen Jogja Kembali atau Monjali merupakan perlambang berfungsinya kembali Pemerintahan Republik Indonesia dan sebagai bukti sejarah ditarik mundurnya pasukan Belanda waktu itu dari Jogja pada tanggal 29 Juni 1949 dan sekaligus kembalinya Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta dan pejabat lainnya pada tanggal 6 Juli 1949 di Yogyakarta. dari pengasingan.

Sejarah ini dimulai tanggal 1 Maret 1949 pukul 06.00 WIB di kota Yogyakarta. Terdengar bunyi sirene yang terdengar dari pos pertahanan Belanda pertanda waktu istirahat pasukan Belanda. Bersamaan dengan pergantian waktu tersebut Letkol Soeharto, Komandan Brigade 10 daerah Wehrkreise III bergerak mulai menggempur pertahanan Belanda setelah mendapat persetujuan dari Sri Sultan Hamengku Buwono IX sebagai penggagas serangan tersebut. Pasukan Belanda yang semenjak Agresi Militer Belanda II bulan Desember 1948 pasukannya disebar ke pos pos kecil dan mulai melemah ini merupakan saat yang tepat untuk di serang pasukan TNI.

Setelah terjadi pertempuran sengit, pasukan Belanda dapat dipukul mundur keluar dari Yogyakarta dan selama 6 jam pasukan TNI berhasil menduduki Kota Yogyakarta. Selanjutnya pukul 12.00 siang pasukan TNI kembali menarik diri dari Yogyakarta karena bantuan pasukan Belanda datang.

Pertempuran tersebut dikenal dengan Serangan Umum 1 Maret yang merupakan bukti pada dunia Internasional nahwa pasukan TNI masih mempunyai kekuatan untuk mengusir dan melawan penjajah keluar dari wilayah NKRI.

Pertempuran tersebut membuat Belanda marah dan akhirnya menangkap Presiden Soekarno dan Mohammad Hatta yang selanjutnya diasingkan ke Sumatra dan Belanda selanjutnya membuat propaganda bahwa Republik Indonesia sudah tidak ada lagi.

Berita perlawanan dari TNI dapat dapat memukul mundur pasukan Belanda sempat dikabarkan ke Wonosari kemudian diteruskan ke Bukit Tinggi kemudian ke Birma selanjutnya ke New Delhi India dan berakhir ke kantor pusat PBB di New York. Mendengar beritta tersebut PBB menganggap Indonesia telah merdeka dan mendesak segera mengadakan Komisi Tiga Negara. Akhirnya diadakan pertemuan di Hotel Des Indes Jakarta pada tanggal 14 April 1949. Wakil dari Indonesia dipimpin oleh Moh Royen sedangkan wakil dari Belanda dipimpin oleh Van Royen dan selanjutnya menghasilkan perjanjian yang ditandatangani tanggal 7 Mei 1949 yang isinya bahwa Belanda dipaksa untuk menarik pasukannya dari Indonesia dan harus memulangkan Presiden Soekarno dan Mohammad Hatta ke Yogyakarta. Akhirnya pada tanggal 27 Desember 1949 Belanda resmi menyerahkan kedaulatan kepada Republik Indonesia

Monumen Jogja Kembali ini dirancang berbentuk gunung yang menjadi lambang kesuburan dan juga merupakan pelestarian dari budaya nenek moyang. Penempatan lokasi bangunan ini pun mengikuti budaya Jogja yaitu terletak pada sumbu imajiner yang menghubungkan Merapi, Tugu, Kraton, Panggung Krapyak dan Parangtritis. Titik imajiner monumen ini terletak pada lantai tiga, tepat pada berdirinya tiang bendera.

Memasuki area monumen ini, anda akan disambut oleh replika pesawat Cureng di dekat pintu timur dan pesawat Guntai di dekat pintu barat. Menaiki teras di sebelah barrat dan timur, pengunjung akan disuguhi dua senjata mesin beroda dengan tempat duduknya. Di ujung selatan pelataran anda akan melihat dinding yang bertuliskan 420 nama pejuang yang gugur antara 19 Desember 1948